Short Mold Cause of Not Enought Gasvent


Short Mold karena Kurang Gasvent
Dalam Mold Design, ketersediaan Gasvent mutlak diperlukan untuk memberikan jalan keluar bagi udara atau uap yang terperangkap di dalam Mold. Gasvent sendiri singkatan dari Gas-Ventilation [Ventilasi Udara atau Gas]. Fungsi Gasvent bisa terdapat di banyak bagian, yaitu celah antara Ejector dan Core Block, Insert Line, Parting Line, atau bisa dibuatkan alur yang tidak jauh dari Cavity Block atau Core Block, dll.
Mold Designer dimungkinkan salah perkiraan mengenai Gasvent Requirement [kebutuhan Gasvent] secara menyeluruh dalam suatu Mold perbagian-bagian block beserta insert nya dan bagian-bagian lainnya. Ketersedian Gasvent mungkin dirasa cukup pada suatu area, dan pada saat percobaan [Trial] tidak terjadi masalah yang signifikan secara Spec Part, dan tidak juga ada masalah pada saat evaluasi Fitting [simulasi pasang] terhadap pasangan part nya, begitu juga Fungtion Test. Hal itu bisa saja terjadi karena kondisi Mold yang masih Fresh, masih sangat baru, sehingga performance masih sangat baik dalam menghasilkan produk yang relatif baik.
Atau bisa juga sebenarnya sudah ada masalah, tetapi tidak terlalu ber-effek kepada dimensi umum part bersangkutan, begitu juga fungsi nya. Juga dari Inspection Method yang dibuat saat itu tidak mendeteksi adanya masalah. Masalah terasa jelas akibat akumulasi kondisi Mold yang terus-menerus digunakan, sehingga masalah yang tadinya tidak dirasa, secara akumulasi mulai terlihat dan ber-effek pada fungsi part tersebut.
Berikut pengalaman penulis terkait hal di atas. Di assy area, terjadi masalah Screw Doll akibat adanya Short Mold dan Sink pada lubang Bos Casing bagian bawah printer. Short Mold dan Sink adalah item Defect atau Reject yang sering muncul secara bersamaan. Pada Bos Casing tersebut tidak dapat terdeteksi oleh penglihatan mata, juga tidak terdeteksi ketika dilakukan pengukuran dengan Pin Gauge. Terlihat jelas begitu produk dibelah, sehingga bisa dilihat oleh mata telanjang.
Namun tidak serta merta kita simpulkan karena Gasvent yang kurang mencukupi pada saat itu, terlebih dahulu kita lakukan tindakan termudah yaitu Injection Trial. Dengan harapan merubah sedikit saja parameter injeksi sudah bisa menghilangkan masalah tersebut. Walaupun kenyataannya tidak, Tetapi kalau tidak dilakukan kita tidak pernah tahu dan hanya menduga-duga saja. Sehingga akhirnya diputuskan modifikasi mold, yaitu menambahkan fungsi Gasvent pada area yang diperlukan. Dan hasilnya sangat bagus, malah lebih bagus dari sebelumnya.
Gambar ilustrasi di sebelah kanan. Warna biru adalah Sleve Ejector, biru muda adalah Core Pin. Celah antara Sleve Ejector dan Core Pin berfungsi juga sebagai Gasvent, namun kenyataanya masih kurang cukup karena masih ada udara atau gas yang terjebak pada posisi Short Mold serta Sink yang menyertainya. Panah merah adalah aliran material plastik cair. Yang diberi lingkaran Merah adalah posisi Short Mold, di wilayah itulah yang ditambahkan fungsi Gasvent berupa Core Pin Insert, pada bagian Core Side.
Stay Tun Sahabat Plastik.

Baca Selanjutnya ..

Short Mold Cause of Nozle or Sprue Bush Damage

Masalah Short Mold Karena Aus pada Nozle atau Sprue Bush
Untuk membuat suatu produk yang baik pada proses injeksi plastik dibutuhkan beberapa faktor untuk menjamin hal tersebut. Faktor tersebut terbagi menjadi 2 bagian besar, yaitu Faktor Yang Dapat Disetting dan Faktor Kondisional. Adapun Faktor Yang Dapat Disetting terdiri dari Waktu [Time], Tekanan [Pressure], Jarak [Switch], Suhu [Temperature], dan Kecepatan [Velocity]. Sedangkan Faktor Kondisional terdiri dari Kondisi Cetakan [Mold dan Kondisi Mesin. Semua itu bermuara pada tujuan untuk mampu menghantarkan material plastik cair memenuhi ruang yang disediakan Mold dalam waktu dan jumlah proporsional untuk menghasilkan produk yang baik sesuai dengan yang kita inginkan baik secara Tampilan [Appearance] maupun secara Dimensi [Dimension].
Dari segi kondisional, kita ambil kondisi Mesin itu sendiri yang diwakili oleh Nozle, dan kondisi pada bagian tertentu dari Mold yaitu Sprue Bush. Dimana pertemuan antara Nozle dan Sprue Bush menyinggung masalah aliran material plastik cair. Titik paling riskan dari keduanya adalah titik sentuh, yang apabila terdapat aus atau keadaan cacat pada salah satu atau keduanya, maka hal ini menimbulkan masalah kebocoran material [material leakage] yang pada akhirnya menimbulkan masalah Short Mold yang permanent pada produk yang dihasilkan. Kebocoran material disini tentunya juga terjadi penggembosan Tekanan Injeksi secara aktual [Actual Injection Pressure Drooped], sehingga tekanan yang dibutuhkan tidak maksimal membentuk produk.
Tindak lanjutnya jelas harus dilakukan penggantian Nozle atau Sprue Bush dengan yang baru. Atau bisa juga dibubut ulang dengan ketentuan yang ditetapkan pada pembahasan sebelumnya mengenai Nozle dan Sprue Bush.
Untuk mencegah kejadian serupa, maka harus mencari tahu kenapa sampai terjadi aus pada Nozle atau Sprue Bush tersebut. Ini yang lebih penting, guna kelangsungan operasi yang terganggu gara-gara masalah sepele yang mengakibatkan aus pada Nozle atau Sprue Bush. Bisa jadi karena membiarkan Nozle dan Sprue Bush tidak senter, sehingga lama-kelamaan menjadi aus. Bisa juga karena penanganan Runner yang Stuck pada Sprue Bush dengan menggunakan sembarangan batangan metal [yang seharusnya lebih lunak dari material Sprue Bush, misalnya kuningan]. Atau bisa juga kebiasaan-kebiasaan yang dianggap sepele yang berakumulasi dan berakibat pada ausnya Nozle atau Sprue Bush. Maka pengawasan dan peringatan tertulis bisa dijadikan pedoman.
Stay Tun Sahabat Pleastik.

Baca Selanjutnya ..

Backflow

Backflow (Aliran Balik)

Backflow terjadi karena adanya celah diantara Check Valve dan Screw Head, yang dalam kondisi normal hal ini sangat tidak diperbolehkan. Tidak boleh adanya Backflow selama proses injeksi berlangsung. Adanya Backflow pada proses berarti ada masalah pada Silinder Barrel dan Screw Sistem. Dan artinya ada masalah pada sistem suplai material plastik. Dan artinya ada masalah pada sistem kerja (form, label, layout, W/I, capacity, flow, dll), instruksi kerja dan pengaturan kerja pada pergudangan material plastik. Hal ini termasuk dalam manajemen pengawasan yang baik, disamping pendekatan psikologis dimana hasilnya adalah ada tidak adanya pengawasan, operasi akan tetap berjalan dengan baik.

Bagaimana mengetahui ada tidaknya Backflow pada proses injeksi bisa dilakukan dengan sangat sederhana. Ambil sebuah balok kayu dan ditempatkan pada Stationary Platen tepat didepan Nozle, majukan Nozle hingga menekan balok kayu tersebut. Hal ini dimaksudkan utk menyumbat lubang Nozle dengan cara yang paling mudah dan cepat. Kemudian lakukan isi ulang (Charging), yaitu proses berputarnya Screw sehingga mengalirkan material plastik cair dari Screw, melewati Check Valve, hingga berada didepan Torpedo. Karena memiliki tekanan, maka Screw akan terdorong mundur kebelakang yang terindikasi pada nilai posisi Screw yang bertambah nilainya, hingga berhenti pada nilai atau posisi Shot Size ditambah Pull Back. Lalu lakukan Injeksi secara manual sambil memperhatikan posisi Screw, dalam 2 detik berselang apakah maju (yang terindikasi pada nilai posisi Screw yang berkurang nilainya) atau diam ditempat. 2 detik tersebut untuk memberi waktu kepada Check Valve untuk reposisi, dari posisi rapat ke Torpedo ke posisi rapat ke Screw Head. Selang 5 detik kemudian injeksi manual dihentikan.

Apabila selama proses injeksi setelah selang 2 detik injeksi posisi Screw bergerak maju dan terus maju, maka dapat disimpulkan adanya Backflow. Seberapa besar Backflow terjadi dapat kita hitung sebagai berikut.

Ketika dilakukan manual injeksi total selama 7 detik. Dimana 2 detik tidak kita perhatikan, setelah itu selama 5 detik selanjutnya Screw bergerak maju sepanjang 20cm. Jika diameter Screw 40mm (4cm) maka luas penampang Screw adalah (3,14 x 4²)/4 = 13cm². Maka besaran Volume Backflow material plastik cair adalah sebesar 13cm² x 20cm = 260cm³ dalam kurun waktu 5detik. Jika kapasitas injeksi maksimum (100%) mencapai 500cm³/detik, dengan Backflow yang terjadi sebesar 260cm³/5detik atau 52cm³/detik. Maka prosentase Backflow sebesar 52cm³ / 500cm³ x 100 = 10%. Jadi luas penampang Backflow terhadap luas penampang Screw adalah 13cm² x 10% = 1,4cm².

Stay Tun Sahabat Plastik.

Baca Selanjutnya ..

Short Mold Cause of Backflow by Screw Sistem Problem

Masalah Short Mold Karena Adanya Aliran Balik akibat Masalah Pada Sistem Screw.


Untuk membuat seuatu produk yang baik pada proses injeksi plastik dibutuhkan beberapa faktor utk menjamin hal tersebut. Faktor tersebut dibagi menjadi 2 bagian besar, yaitu faktor yang dapat di Setting dan faktor Kondisional. Adapun faktor yang dapat di Setting terdiri dari Waktu (Time), Tekanan (Pressure), Jarak (Switch), Suhu (Temperature), dan Kecepatan (Velocity). Sedangkan faktor Kondisional terdiri dari Kondisi Cetakan (Mold) dan kondisi Mesin. Semua itu bermuara pada tujuan untuk mampu menghantarkan material plastik cair untuk memenuhi ruang yang disediakan Mold dalam waktu dan jumlah proporsional untuk menghasilkan produk yang baik sesuai yang kita inginkan.


Kali ini kita membahas sistem Screw, bagian dari mesin, baik dari sisi cara kerja maupun permasalahannya. Sistem Screw terdiri atas 3 bagian, yaitu Check Ring (Check Valve), Torpedo, dan Screw itu sendiri. Sistem Screw memiliki fungsi kerja utama yaitu fungsi kerja injeksi dan fungsi kerja isi ulang (Charging). Dari 2 fungsi kerja itu yang bereffek pada masalah Short Mold adalah fungsi kerja injeksi.


Fungsi kerja injeksi adalah kondisi atau keadaan Screw Sistem, dimana posisi Check Ring merapat pada Screw Head (bagian paling depan Screw). Persyaratan dari kondisi ini adalah tidak adanya celah antara Check Ring dan Screw Head. Berarti kondisi abnormal adalah sebaliknya, yaitu terdapat celah diantara keduanya. Bagaimana celah itu terjadi ? Celah tersebut terjadi disebabkan beberapa faktor, antara lain.


Yang pertama. Adanya material asing yag berada diantara Check Ring dan Screw Head. Material ini tidak ikut leleh pada suhu leleh plastik pada kisaran suhu 250~300 °C, mengganjal diantara Check Ring dan Screw Head sehingga membuat celah bocoran. Dan biasanya material asing ini berasa dari bahan besi atau metal lainnya.


Tang kedua. Adanya retakan atau kerusakan pada Screw Head ataupun pada Check Ring. Hal inipun tak lepas dari akibat adanya material asing yang berupa besi atau bahan metal lainnya, sehingga mengakibatkan kerusakan tersebut. Tindakan sementara jelas harus dilakukan penggantian dengan Spare Part yang baru, namun tindakan lebih lanjut agar tidak terulang dikembalikan kepada pihak manajemen perusahaan untuk memperbaiki sistem kerja dan pengaturan secara menyeluruh dan untuk bisa membangkitkan rasa memiliki yang kuat, spirit, komitmen, dan motivasi pada karyawan agar selalu berfikir positif atas kelangsungan operasi, sehingga tidak hanya sekedar melakukan tugas semata, tetapi lebih kepada ikut menjaga.


Fungsi kerja Charging adalah kondisi atau keadaan dimana posisi Check Ring merapat ke Torpedo. Dengan bentuk sedemikian rupa, walaupun rapat tetapi tetap harus ada celah diantara keduanya agar material dapat mengalir dari belakang Screw Head sampai ke depan Torpedo. Jadi disini celah memang harus ada, tidak perlu dipermasalahkan.


Stay Tun Sahabat PLastik.

Baca Selanjutnya ..

Short Mold Cause of Backflow of Barrel Oversize

Masalah Short Mold Karena adanya Aliran Balik akibat Tungku yg Oversize Untuk membuat suatu produk yang baik pada proses injeksi plastik dibutuhkan beberapa faktor yang dapat kita atur diantaranya adalah faktor Waktu, Kecepatan, Tekanan, Jarak atau Posisi dan Suhu. Kecepatan keluarnya material cair effektif terkait dengan faktor Waktu dan sangat berhubungan dengan setting parameter mesin terjadi pada lubang Nozzle, tepatnya di bagian ujung lubang Nozzle. Faktor Waktu yang dimaksud adalah Waktu yang dibutuhkan sesingkat mungkin untuk menghindari terjadinya material stuck atau macet sebelum seluruh ruang di dalam Mold atau cetakan terisi penuh. Material stuck yang dimaksud adalah material tersebut keburu membeku ditengah jalan selama proses, karena material plastik cair tersebut bersentuhan langsung dengan suhu Mold yang berada jauh di bawah suhu leleh material plastik. Disamping faktor yang dapat diatur atau disetting seperti disebut di atas, ada pula faktor yang umumnya tidak dapat disetting yaitu faktor kondisi Mesin dan Mold. Dalam pembahasan kita kali ini adalah kondisi Barrel Mesin Injeksi yang sudah Oversize, atau sudah sangat longgar dari pasangannya yaitu Screw dan komponen lain bersama Screw yaitu Screw Head dan Check Ring [Check Valve]. Adapun rekomendasi pabrikan yang penulis ketahui yaitu dari Nissei Plastic mengeluarkan angka maksimum jarak celah diantaranya adalah 0.02 mm, lebih dari itu dipastikan akan terjadi Backflow pada saat proses. Angka inipun dipakai dalam mendesign Mold agar tidak terjadi Burry, istilah lain dari Flash. Yang menyebabkan Barrel bisa terjadi Oversize adalah faktor umur pakai dan penggunaan material. Dari faktor umur pakai bisa dikarenakan adanya terjadi sentuhan antara Screw dan dinding Barrel pada saat proses injeksi secara kontinyu dan terus menerus sehingga terjadi penggerusan secara akumulasi pada Screw dan dinding silinder Barrel. Sedangkan dari sisi penggunaan material didominasi oleh penggunaan material recycle, karena dari sini sangat memungkinkan masuknya material asing yang tidak diinginkan ikut masuk ke dalam Barrel dan melukai dinding Barrel dan Screw sehingga secara akumulasi juga akan terjadi Oversize. Namun bila ini faktor dominannya, maka umur pakai Barrel akan lebih cepat bila tidak ditunjang oleh sistem kerja yang baik, pengaturan atau manajemen pergudangan material yang sangat baik dan penempatan orang-orang yang memiliki komitmen penuh terhadap kelangsungan operasi. Karena bila sudah terjadi Backflow, maka mau tidak mau Barrel dan Screw harus diganti baru. Selain harganya yang relatif cukup mahal, juga membutuhkan banyak waktu, tenaga, dan dana apalagi pada mesin injeksi yang berukuran di atas 350 ton Clamping.
Stay Tun Sahabat Plastik.

Baca Selanjutnya ..

Short Mold by Cause of Nozzle Alignment Position

Masalah Short Mold Karena Posisi Alignment Nozle. Untuk membuat suatu produk yang baik pada proses injeksi plastik dibutuhkan beberapa faktor yang dapat kita atur diantaranya adalah faktor Waktu, Kecepatan, Tekanan, Jarak atau Posisi dan Suhu. Kecepatan keluarnya material cair effektif terkait dengan faktor Waktu dan sangat berhubungan dengan setting parameter mesin terjadi pada lubang Nozzle, tepatnya di bagian ujung lubang Nozzle. Faktor Waktu yang dimaksud adalah Waktu yang dibutuhkan sesingkat mungkin untuk menghindari terjadinya material stuck atau macet sebelum seluruh ruang di dalam Mold atau cetakan terisi penuh. Material stuck yang dimaksud adalah material tersebut keburu membeku ditengah jalan selama proses, karena material plastik cair tersebut bersentuhan langsung dengan suhu Mold yang berada jauh di bawah suhu leleh material plastik.Lubang Nozzle tersebut memiliki dimensi dan terkait dengan aliran material cair yang melewatinya dengan kecepatan tertentu. Berikut di bawah ini penjelasannya. Suatu mesin injeksi plastik memiliki Nozzle dengan diameter lubangnya sebesar 3 mm, berdasarkan setting Kecepatan Injeksi yang dibuat, menghasilkan kecepatan aliran material secara aktual sebesar 1 meter/detik. Untuk menghitung besaran material yang dikeluarkan selama 1 detik tersebut, terlebih dahulu kita sesuaikan satuannya ke dalam cm. Untuk diameter lubang Nozzle menjadi 0,3 cm. Untuk panjang material yang keluar menjadi 100 cm. Berapa volume material cair yang dikeluarkan dalam 1 detik tersebut dapat dihitung dengan menggunakan rumus (π x Ds²)/4 x L. Dimana, π : 3,14. Ds adalah Diameter Screw, dan L adalah dimensi panjang material yang dikeluarkan. Maka perhitungan dari : (3,14 x 0,3²)/4 x 100 = 7 cm³ untuk setiap detiknya. Bila lamanya total Injeksi sebesar 5 detik, maka volume keseluruhan yang keluar dari lubang Nozzle adalah 7 x 5 = 35 cm³. Jika gara-gara posisi alignment Nozzle tidak sejajar atau tidak lurus dengan lubang Sprue Bush hingga menutup setengahnya atau sekitar 50% dari lubang Nozzle, maka sebanding lurus dengan material yang dikeluarkan menjadi 7 cm³ x 50% = 3,5 cm³. Sehingga volume material yang dikelauarkan dalam 5 detik total waktu injeksi adalah 3,5 x 5 = 17,5 cm³. Perhitungan diatas memang tidak absolut, karena belum termasuk menghitung berbagai faktor yang sedikit banyak ikut mempengaruhi hasil perhitungan. Namun secara umum kira-kira dapat mewakili opini atau argumentasi terhadap masalah bersangkutan.
Stay Tun Sahabat Plastik.

Baca Selanjutnya ..

Short Mold by Cause of Hold Pressure Time too short

Masalah Short Mold Karena Waktu Hold Pressure Yang Terlalu Singkat.
Pada umumnya, hasil dari proses sebelumnya yaitu Filling Proces, sengaja dibuat agar produk yang dihasilkan masih dalam keadaan belum sempurna, atau bisa dibilang sedikit Short Mold. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari Over Peak yang akan mengakibatkan Flash secara akumulasi dari waktu ke waktu. Maksudnya, bisa saja kondisi Mold yang masih baru ketika Trial pertama hingga Approved didapat produk yang masih OK, tapi seiring waktu disaat Mass Pro akan mempercepat keausan Mold dan menghasilkan Flash, dengan kondisi Parameter yang masih sama tentunya, dan mengabaikan kondisi mesin.
Memasuki Hold Process, dimana target yang harus dicapai adalah menghasilkan produk yang OK tanpa menimbulkan effek negatif terhadap Mold, atau setidaknya ikut berperan memanjangkan umur pakai Mold, dengan mengabaikan Material Mold yang digunakan. Dan tentu saja proses ini membutuhkan Waktu, dan tersedia dalam Display Parameter dari mesin, tinggal kita atur saja waktu yang dibutuhkan, sedikit lama tidak mengapa untuk menjamin hasil. Untuk mesin-mesin yang relatif baru, tersedia setting waktu untuk Hold Pressure Time dalam beberapa tingkatan, tentu saja ini akan mempermudah kita di dalam membuat variasi waktu pada setiap tingkatan Hold Pressure nya.
Masalah akan timbul jika waktu yang kita buat terlalu singkat, artinya tekanan effektif belum tercapai tetapi sudah diputus. Untuk Trial pertama, ini memang dipersyaratkan. Bertahap sedikit demi sedikit kita tambahkan waktunya hingga kita dapat produk yang dihasilkan OK tanpa membutuhkan waktu yang berlebihan. Penambahan waktu setiap sekitar 0,5 detik atau dibawah itu sambil diamati produk yang dihasilkan.
Stay Tun Sahabat Plastik.

Baca Selanjutnya ..

Short Mold Cause of Foreign at Nozzle Hole

Short Mold karena Benda Asing pada Lubang Nozzle.

Istilah Benda Asing tersebut maksudnya adalah benda atau material yang bukan kita inginkan berada di dalam Barrel atau Nozle, yaitu benda selain Material Plastik. Tipical Short Mold yang terjadi memiliki pola Intermitten [kadang-kadang]. Dimana ketika sedang running produksi, tiba-tiba produk yang dihasilkan ada yang Short Mold, lalu tiba-tiba produk tidak ada yang Short Mold [OK]. Hal ini tentu saja ada sesuatu yang bermasalah pada saat proses injeksi berlangsung, masalah tersebut bisa kita prediksi dengan memperhatikan beberapa hal.

Dengan mengamati Pressure Gauge pada Unit Injeksi ketika siklus injeksi berlangsung. Bandingkan dengan setting Fill Pressure pada settingan, apakah penunjukkannya dibawah angka setting, atau mencapai bahkan melebihi angka setting yang telah dibuat. Bila jarum penunjuk menunjukkan angka di bawah angka setting, maka dipastikan produk yang dihasilkan tidak akan Short Mold. Sebaliknya bila jarum penunjuk mencapai angka setting bahkan lebih, dipastikan produk yang dihasilkan akan Short Mold. Bila diketahui maksimum Hidrolic Pressure dari mesin injeksi sebesar 140 kg/cm², dan angka setting Fill Pressure yang telah dibuat sebesar 70% [pada mesin dengan penunjukkan setting %], maka besaran setting Fill Pressure sebesar 140 x 70% = 98 kg/cm². Bila jarum penunjukkan angka di bawah 98 kg/cm² maka produk OK, sebaliknya bila jarum menunjukkan angka 98 kg/cm² atau lebih maka produk akan Short Mold.

Dengan mengamati jarum penunjuk gerakan Screw Injeksi ketika siklus injeksi berlangsung. Apakah gerakannya lancar atau seakan tersendat atau tertahan. Bila gerakan Screw terlihat lancar, maka produk yang dihasilkan dipastikan tidak Short Mold. Sebaliknya bila terlihat seakan tertahan, maka produk yang dihasilkan dipastikan Short Mold.

Lebih mudah kita mengamati mesin yang sudah dilengkapi dengan Display digital, dimana setiap hasil proses injeksi akan terekam secara detail. Bahkan ada pula yang langsung berbentuk Grafik, sehingga sangat membantu kita dalam membaca proses.

Hal tersebut terjadi dikarenakan posisi Benda Asing yang berada di dalam lubang Nozzle selalu berubah-ubah, kadang ia menghalangi lubang Nozle dan kadang pula tidak menghalangi lubang Nozle. Bila ia menghalangi lubang Nozle, maka aliran akan tersumbat dan mesin akan menggunakan seluruh energi tekannya hingga mencapai angka setting yang kita buat, hal ini ditunjukkan oleh jarum penunjuk pada Pressure Gauge. Bila posisinya tidak menghalangi lubang Nozzle, maka aliran material plastik cair akan lancar dan mesin tidak memerlukan seluruh energi tekannya dan jarum penunjukkan pada Pressure Gauge akan di bawah angka setting, maka produk OK.

Sejauh yang penulis alami, Foreign Material tersebut umumnya berbahan dasar logam. Logam tersebut adalah logam yang tidak tertarik oleh Magnet seperti Stainless, Alumunium, Tembaga, dll. Padahal kita sangat mengandalkan Magnet yang dipasang pada Hopper Mesin Injeksi. Tinggal tergantung kitanya, bagaimana hal tersebut tidak terjadi. Untuk itu kita harus mengetahui terlebih dahulu pastinya bendal asing tersebut apa ? sehingga kita bisa memastikan benda asing tersebut berasal dari mana, lalu kita bisa mengambil tindakan emegency dan juga tindakan preventive-nya sekalian.

Adapun cara yang praktis melepas Nozzle dan mendapatkan Foreign Material di dalam lubang Nozzle tersebut adalah sebagai berikut. [1] Panaskan Heater Barrel termasuk Nozzle pada suhu cair plastik dengan suhu antara 220°C ~ 250°C. [2] Tanpa menunggu dingin, Lepas Heater Band dan Thermocouple Ring pada Nozzle. [3] Lepas Nozzle dengan menggunakan kunci khusus untuk Nozzle dengan bantuan palu hingga lepas dari Barrel. [4] Pegang Nozzle dengan bantuan Tang Jepit, dan tusukkan Paku atau Screw atau Baut panjang ke bagian Plastik yang masih lunak sedalam mungkin. [5] Celupkan Nozzle dan paku yang sudah tertancap ke dalam wadah yang beirisi air, tunggu hingga dingin. [6] Setelah dingin, angkat Nozzle dan tarik Paku hingga tertarik pula Plastik yang berada di dalam lubang Nozzle tersebut. Maka hasilnya sudah kita dapatkan.

Stay Tun Sahabat Plastik.

Baca Selanjutnya ..

Hot Runner System

Sistem Hot Runner

Mold 2 Pelat memiliki keunggulan Mold Open yang lebih pendek dibandingkan dengan Mold 3 Pelat. Disamping juga pemanfaatan kapasitas mesin agar lebih maksimal, terutama Open Daylight Specific dari suatu mesin injeksi. Untuk mendapatkan Produk yang terpisah dari Runner harus mengaplikasikan Mold 3 Pelat, tapi sebenarnya bisa juga dengan Mold 2 Pelat yang mengeluarkan Produk malah dengan tanpa disertai Runner, tentu saja dengan aplikasi Sistem Hot Runner. Pertimbangan investasi Sistem Hot Runner juga dibandingkan dengan investasi mesin, selain juga mengurangi biaya daur ulang untuk mengolah Runner dan pengambilan Runner secara manual oleh manusia dari mesin injeksi, apalagi dengan jumlah mesin yang besar. Berikut ini adalah bagian-bagian dari Sistem Hot Runner, keterangan, dan cara kerjanya.

1. 1a dan 1b adalah Sprue Heater. Sebenarnya bentuk Heater ini melingkar mengikuti bentuk silindris dari Sprue dan disini juga terpasang Thermocouple yang berfungsi mendeteksi besaran suhu sebenarnya [Actual] dan menunjukkan angka suhu pada Hot Runner Controller Box secara digital. Jadi antara Suhu yang kita buat [atau yang kita Setting] dan ditunjukkan monitor, berdampingan dengan suhu Actual, sehingga kita dapat mengetahui suhu Actual sudah mencapai suhu yang kita inginkan atau belum.

2. 2a, 2b, dan 2c adalah Manifold Heater. Bentuk Heater ini bisa berbentuk Pelat, bisa juga berbentuk Stick. Bentuk Stick ini bisa fleksibel mengikuti bentuk dan ukuran Manifold itu sendiri, tentu dengan treatment khusus untuk Manufaktur Sistem Hot Runner. Disinipun dilengkapi dengan pemasangan Thermocouple, sehingga kita dapat mengetahui Heater nya ON atau OFF dengan memperhatikan Monitor pada Control Box.

3. 3a dan 3b adalah Gate Heater. Sama dengan Sprue Heater yang bentuknya melingkar seperti pegas mengikuti bentuk Silindris dari Gate itu sendiri. Juga dengan dilengkapi Thermocouple sebagai sensor panas. Karena konstruksinya yang unik ini, dimana semua Heater berada di dalam Mold, maka Cooling System harus disesuaikan secara jumlah.

4. A dan B adalah Silinder. Silinder ini bisa menggunakan media Oli [Hydrolic System] atau bisa juga dengan media Angin [Pneumatic System]. Silinder ini berfungsi untuk menggerakkan Pin Gate [C] maju sebagai Gate Close, dan mundur sebagai Gate Open. Dan [D] adalah Gate tersebut.

Pada saat Mold Open, Pin Gate berada pada posisi maju sehingga menutupi lubang Gate. Ketika Mold Clamping dan sesaat sebelum Injection Start, posisi Pin Gate bergerak mundur, sehingga lubang Gate terbuka, maka material plastik dapat melaluinya [warna biru] dan memenuhi bentuk cetakan Produk di dalam Mold. Setelah proses Holding, seketika itu pula posisi Pin Gate kembali maju untuk menutup lubang Gate. Maka Hasilnya hanya Produk saja yang keluar dari Mold.

Semua sistem Hot Runner ini terpusat pada Hot Runner Controller Box, baik suhu, timer, dan Solenoid Valve, maupun pompa Hidrolik nya. Mode pengoperasiannya pun dapat secara manual apabila kita hendak mencoba fungsinya secara manual, maupun secara otomatis yang bekerja otomatis dan Interlock dengan program kerja mesin Injeksi.

Stay Tun Sahabat Plastik.

Baca Selanjutnya ..

2 Plate Mold Type Basic Product Typical

Tipikal Dasar Produk pada Mold 2 Pelat

Mold 2 Pelat memiliki karakter dasar terhadap produk yang dihasilkan, yaitu Runner yang menempel pada Produk, seperti diperlihatkan pada gambar di samping. Berikut adalah keterangan serta penjelasannya.

1. Sprue Runner. Disinilah pertama kali material plastik cair masuk ke dalam bagian Mold. Dibentuk oleh Sprue Bush pada Mold. Bentuk Sprue Runner itu sendiri harus kecil di awal yang bersentuhan dengan Nozle Mesin dan besar kemudian, atau biasa juga disebut memiliki Taper dengan sudut maksimal 5° dengan maksud agar mudah ditarik oleh sisi Core [Release Point].

2. Cold Slug Well. Berfungsi untuk menjebak material plastik cair yang lebih dingin. Material ini umumnya terdapat pada ujung Nozle, selain bersentuhan dengan Mold yang lebih dingin dari suhu Nozle itu sendiri, juga bersentuhan dengan udara bebas yang juga lebih dingin dari suhu Nozle. Daripada mengganggu aliran material ketika proses injeksi berlangsung, lebih aman dijebak dan tidak diikutkan dalam aliran menuju pembentukan produk. Bentuk Cold Slug Well inipun harus sedemikian pula agar bisa menarik Sprue Runner, dan ini dibentuk oleh Ejector yang disebut Sprue Lock Pin. Lihat posting Konstruksi Mold Plastik Tipe 2 Pelat.

3. Main Runner. Dimana pada setiap ujungnya pun dibuat jebakan material plastik yang terlanjur turun suhunya karena bersentuhan dengan Mold. Dengan alasan yang sama pada poin No.2 di atas.

4. Branch Gate. Bagian Runner yang lebih pendek sebelum Gate. Harus lebih besar daripada Gate untuk menjamin pasokan material melalui Gate dengan bentuk yang lebih kecil.

5. Gate. Dengan bentuk yang kecil dan harus dipastikan bahwa material yang melewati area ini adalah yang benar-benar masih dalam keadaan cair dan dapat mengalir dengan baik. Sengaja harus dibuat lebih kecil agar di area inilah yang lebih dahulu dingin, dan material plastik cair yang berada di area inipun lebih cepat mengeras dari pada area lainnya, atau biasa disebut juga Gate Sealing Time, waktu dimana bagian Gate telah mengeras sehingga material plastik yang telah masuk ke dalam bagian pembentukan produk tidak akan bisa balik lagi.

6. Produk. Bagian yang diambil untuk dikemas dan dikirim ke tempat lain untuk di Assy dengan bagian-bagian lainnya.

Adapun Mold 2 Pelat yang mengeluarkan produk sudah terpisah dari Runner nya, yaitu dengan mengaplikasikan sistem Submarine Gate dan aplikasi Hot-Runner. Lebih lanjut mengenai sistem ini akan dibahas terpisah.

Stay Tun Sahabat Plastik.

Baca Selanjutnya ..