HOME CONTACT ARTIKEL TRAINING

Short Mold Karena Aus pada Nozzle atau Sprue Bush.

Short Mold Karena Aus pada Nozzle atau Sprue Bush. 

Untuk membuat suatu produk yang baik pada proses injeksi plastik dibutuhkan beberapa faktor untuk menjamin hal tersebut. Faktor tersebut terbagi menjadi 2 bagian besar, yaitu Faktor Yang Dapat Disetting dan Faktor Kondisional.

Adapun Faktor Yang Dapat Disetting terdiri dari Waktu [Time], Tekanan [Pressure], Jarak [Switch], Suhu [Temperature], dan Kecepatan [Velocity]. Sedangkan Faktor Kondisional terdiri dari Kondisi Cetakan [Mold dan Kondisi Mesin. Semua itu bermuara pada tujuan untuk mampu menghantarkan material plastik cair memenuhi ruang yang disediakan Mold dalam waktu dan jumlah proporsional untuk menghasilkan produk yang baik sesuai dengan yang kita inginkan baik secara Tampilan [Appearance] maupun secara Dimensi [Dimension]. 

Dari segi kondisional, kita ambil kondisi Mesin itu sendiri yang diwakili oleh Nozle, dan kondisi pada bagian tertentu dari Mold yaitu Sprue Bush. Dimana pertemuan antara Nozle dan Sprue Bush menyinggung masalah aliran material plastik cair. Titik paling riskan dari keduanya adalah titik sentuh, yang apabila terdapat aus atau keadaan cacat pada salah satu atau keduanya, maka hal ini menimbulkan masalah kebocoran material [material leakage] yang pada akhirnya menimbulkan masalah Short Mold yang permanent pada produk yang dihasilkan. Kebocoran material disini tentunya juga terjadi penggembosan Tekanan Injeksi secara aktual [Actual Injection Pressure Drooped], sehingga tekanan yang dibutuhkan tidak maksimal membentuk produk. 

Tindak lanjutnya jelas harus dilakukan penggantian Nozle atau Sprue Bush dengan yang baru. Atau bisa juga dibubut ulang dengan ketentuan yang ditetapkan pada pembahasan sebelumnya mengenai Nozle dan Sprue Bush.  

Untuk mencegah kejadian serupa, maka harus mencari tahu kenapa sampai terjadi aus pada Nozle atau Sprue Bush tersebut. Ini yang lebih penting, guna kelangsungan operasi yang terganggu gara-gara masalah sepele yang mengakibatkan aus pada Nozle atau Sprue Bush. Bisa jadi karena membiarkan Nozle dan Sprue Bush tidak senter, sehingga lama-kelamaan menjadi aus. Bisa juga karena penanganan Runner yang Stuck pada Sprue Bush dengan menggunakan sembarangan batangan metal [yang seharusnya lebih lunak dari material Sprue Bush, misalnya kuningan]. Atau bisa juga kebiasaan-kebiasaan yang dianggap sepele yang berakumulasi dan berakibat pada ausnya Nozle atau Sprue Bush. Maka pengawasan dan peringatan tertulis bisa dijadikan pedoman.  

Stay Tune Sahabat Plastik.

Baca Selanjutnya ..

Mengenal Istilah Backflow.

Mengenal Istilah Backflow (Aliran Balik).

Backflow terjadi karena adanya celah diantara Check Valve dan Screw Head, yang dalam kondisi normal hal ini sangat tidak diperbolehkan. Tidak boleh adanya Backflow selama proses injeksi berlangsung. Adanya Backflow pada proses berarti ada masalah pada Silinder Barrel dan Screw Sistem. Dan artinya ada masalah pada sistem suplai material plastik. Dan artinya ada masalah pada sistem kerja (form, label, layout, W/I, capacity, flow, dll), instruksi kerja dan pengaturan kerja pada pergudangan material plastik. Hal ini termasuk dalam manajemen pengawasan yang baik, disamping pendekatan psikologis dimana hasilnya adalah ada tidak adanya pengawasan, operasi akan tetap berjalan dengan baik.

Bagaimana mengetahui ada tidaknya Backflow pada proses injeksi bisa dilakukan dengan sangat sederhana. Ambil sebuah balok kayu dan ditempatkan pada Stationary Platen tepat didepan Nozle, majukan Nozle hingga menekan balok kayu tersebut. Hal ini dimaksudkan utk menyumbat lubang Nozle dengan cara yang paling mudah dan cepat. Kemudian lakukan isi ulang (Charging), yaitu proses berputarnya Screw sehingga mengalirkan material plastik cair dari Screw, melewati Check Valve, hingga berada didepan Torpedo. Karena memiliki tekanan, maka Screw akan terdorong mundur kebelakang yang terindikasi pada nilai posisi Screw yang bertambah nilainya, hingga berhenti pada nilai atau posisi Shot Size ditambah Pull Back. Lalu lakukan Injeksi secara manual sambil memperhatikan posisi Screw, dalam 2 detik berselang apakah maju (yang terindikasi pada nilai posisi Screw yang berkurang nilainya) atau diam ditempat. 2 detik tersebut untuk memberi waktu kepada Check Valve untuk reposisi, dari posisi rapat ke Torpedo ke posisi rapat ke Screw Head. Selang 5 detik kemudian injeksi manual dihentikan.

Apabila selama proses injeksi setelah selang 2 detik injeksi posisi Screw bergerak maju dan terus maju, maka dapat disimpulkan adanya Backflow. Seberapa besar Backflow terjadi dapat kita hitung sebagai berikut.

Ketika dilakukan manual injeksi total selama 7 detik. Dimana 2 detik tidak kita perhatikan, setelah itu selama 5 detik selanjutnya Screw bergerak maju sepanjang 20cm. Jika diameter Screw 40mm (4cm) maka luas penampang Screw adalah (3,14 x 4²)/4 = 13cm². Maka besaran Volume Backflow material plastik cair adalah sebesar 13cm² x 20cm = 260cm³ dalam kurun waktu 5detik. Jika kapasitas injeksi maksimum (100%) mencapai 500cm³/detik, dengan Backflow yang terjadi sebesar 260cm³/5detik atau 52cm³/detik. Maka prosentase Backflow sebesar 52cm³ / 500cm³ x 100 = 10%. Jadi luas penampang Backflow terhadap luas penampang Screw adalah 13cm² x 10% = 1,4cm².

Stay Tune Sahabat Plastik.

Baca Selanjutnya ..

Short Mold Karena Backflow dari Masalah Sistem Screw.

Short Mold karena masalah pada Sistem Screw.

Untuk membuat seuatu produk yang baik pada proses injeksi plastik dibutuhkan beberapa faktor utk menjamin hal tersebut. Faktor tersebut dibagi menjadi 2 bagian besar, yaitu faktor yang dapat di Setting dan faktor Kondisional. Adapun faktor yang dapat di Setting terdiri dari Waktu (Time), Tekanan (Pressure), Jarak (Switch), Suhu (Temperature), dan Kecepatan (Velocity). Sedangkan faktor Kondisional terdiri dari Kondisi Cetakan (Mold) dan kondisi Mesin. Semua itu bermuara pada tujuan untuk mampu menghantarkan material plastik cair untuk memenuhi ruang yang disediakan Mold dalam waktu dan jumlah proporsional untuk menghasilkan produk yang baik sesuai yang kita inginkan. 

Kali ini kita membahas sistem Screw, bagian dari mesin, baik dari sisi cara kerja maupun permasalahannya. Sistem Screw terdiri atas 3 bagian, yaitu Check Ring (Check Valve), Torpedo, dan Screw itu sendiri. Sistem Screw memiliki fungsi kerja utama yaitu fungsi kerja injeksi dan fungsi kerja isi ulang (Charging). Dari 2 fungsi kerja itu yang bereffek pada masalah Short Mold adalah fungsi kerja injeksi. 

Fungsi kerja injeksi adalah kondisi atau keadaan Screw Sistem, dimana posisi Check Ring merapat pada Screw Head (bagian paling depan Screw). Persyaratan dari kondisi ini adalah tidak adanya celah antara Check Ring dan Screw Head. Berarti kondisi abnormal adalah sebaliknya, yaitu terdapat celah diantara keduanya. Bagaimana celah itu terjadi ? Celah tersebut terjadi disebabkan beberapa faktor, antara lain.

Yang pertama. Adanya material asing yag berada diantara Check Ring dan Screw Head. Material ini tidak ikut leleh pada suhu leleh plastik pada kisaran suhu 250~300 °C, mengganjal diantara Check Ring dan Screw Head sehingga membuat celah bocoran. Dan biasanya material asing ini berasa dari bahan besi atau metal lainnya.

Yang kedua. Adanya retakan atau kerusakan pada Screw Head ataupun pada Check Ring. Hal inipun tak lepas dari akibat adanya material asing yang berupa besi atau bahan metal lainnya, sehingga mengakibatkan kerusakan tersebut. Tindakan sementara jelas harus dilakukan penggantian dengan Spare Part yang baru, namun tindakan lebih lanjut agar tidak terulang dikembalikan kepada pihak manajemen perusahaan untuk memperbaiki sistem kerja dan pengaturan secara menyeluruh dan untuk bisa membangkitkan rasa memiliki yang kuat, spirit, komitmen, dan motivasi pada karyawan agar selalu berfikir positif atas kelangsungan operasi, sehingga tidak hanya sekedar melakukan tugas semata, tetapi lebih kepada ikut menjaga.

Fungsi kerja Charging adalah kondisi atau keadaan dimana posisi Check Ring merapat ke Torpedo. Dengan bentuk sedemikian rupa, walaupun rapat tetapi tetap harus ada celah diantara keduanya agar material dapat mengalir dari belakang Screw Head sampai ke depan Torpedo. Jadi disini celah yang memang harus terjadi.

Stay Tune Sahabat PLastik.

Baca Selanjutnya ..

Short Mold Karena Backflow dari Barrel Oversize

Short Mold Karena Barrel Oversize.

Masalah Short Mold Karena adanya Aliran Balik akibat Tungku yg Oversize Untuk membuat suatu produk yang baik pada proses injeksi plastik dibutuhkan beberapa faktor yang dapat kita atur diantaranya adalah faktor Waktu, Kecepatan, Tekanan, Jarak atau Posisi dan Suhu.

Kecepatan keluarnya material cair effektif terkait dengan faktor Waktu dan sangat berhubungan dengan setting parameter mesin terjadi pada lubang Nozzle, tepatnya di bagian ujung lubang Nozzle. Faktor Waktu yang dimaksud adalah Waktu yang dibutuhkan sesingkat mungkin untuk menghindari terjadinya material stuck atau macet sebelum seluruh ruang di dalam Mold atau cetakan terisi penuh.

Material stuck yang dimaksud adalah material tersebut keburu membeku ditengah jalan selama proses, karena material plastik cair tersebut bersentuhan langsung dengan suhu Mold yang berada jauh di bawah suhu leleh material plastik.

Disamping faktor yang dapat diatur atau disetting seperti disebut di atas, ada pula faktor yang umumnya tidak dapat disetting yaitu faktor kondisi Mesin dan Mold. Dalam pembahasan kita kali ini adalah kondisi Barrel Mesin Injeksi yang sudah Oversize, atau sudah sangat longgar dari pasangannya yaitu Screw dan komponen lain bersama Screw yaitu Screw Head dan Check Ring [Check Valve].

Adapun rekomendasi pabrikan yang penulis ketahui yaitu dari Nissei Plastic mengeluarkan angka maksimum jarak celah diantaranya adalah 0.02 mm, lebih dari itu dipastikan akan terjadi Backflow pada saat proses. Angka inipun dipakai dalam mendesign Mold agar tidak terjadi Burry, istilah lain dari Flash.

Yang menyebabkan Barrel bisa terjadi Oversize adalah faktor umur pakai dan penggunaan material. Dari faktor umur pakai bisa dikarenakan adanya terjadi sentuhan antara Screw dan dinding Barrel pada saat proses injeksi secara kontinyu dan terus menerus sehingga terjadi penggerusan secara akumulasi pada Screw dan dinding silinder Barrel. Sedangkan dari sisi penggunaan material didominasi oleh penggunaan material recycle, karena dari sini sangat memungkinkan masuknya material asing yang tidak diinginkan ikut masuk ke dalam Barrel dan melukai dinding Barrel dan Screw sehingga secara akumulasi juga akan terjadi Oversize.

Namun bila ini faktor dominannya, maka umur pakai Barrel akan lebih cepat bila tidak ditunjang oleh sistem kerja yang baik, pengaturan atau manajemen pergudangan material yang sangat baik dan penempatan orang-orang yang memiliki komitmen penuh terhadap kelangsungan operasi. Karena bila sudah terjadi Backflow, maka mau tidak mau Barrel dan Screw harus diganti baru. Selain harganya yang relatif cukup mahal, juga membutuhkan banyak waktu, tenaga, dan dana apalagi pada mesin injeksi yang berukuran di atas 350 ton Clamping. 

Stay Tune Sahabat Plastik.

Baca Selanjutnya ..

Short Mold Karena Posisi Nozzle Alignment.

Short Mold Karena Posisi Alignment Nozzle.

Untuk membuat suatu produk yang baik pada proses injeksi plastik dibutuhkan beberapa faktor yang dapat kita atur diantaranya adalah faktor Waktu, Kecepatan, Tekanan, Jarak atau Posisi dan Suhu. Kecepatan keluarnya material cair effektif terkait dengan faktor Waktu dan sangat berhubungan dengan setting parameter mesin terjadi pada lubang Nozzle, tepatnya di bagian ujung lubang Nozzle.   

Faktor Waktu yang dimaksud adalah Waktu yang dibutuhkan sesingkat mungkin untuk menghindari terjadinya material stuck atau macet sebelum seluruh ruang di dalam Mold atau cetakan terisi penuh.

Material stuck yang dimaksud adalah material tersebut keburu membeku ditengah jalan selama proses, karena material plastik cair tersebut bersentuhan langsung dengan suhu Mold yang berada jauh di bawah suhu leleh material plastik.Lubang Nozzle tersebut memiliki dimensi dan terkait dengan aliran material cair yang melewatinya dengan kecepatan tertentu. Berikut di bawah ini penjelasannya.

Suatu mesin injeksi plastik memiliki Nozzle dengan diameter lubangnya sebesar 3 mm, berdasarkan setting Kecepatan Injeksi yang dibuat, menghasilkan kecepatan aliran material secara aktual sebesar 1 meter/detik.

Untuk menghitung besaran material yang dikeluarkan selama 1 detik tersebut, terlebih dahulu kita sesuaikan satuannya ke dalam cm. Untuk diameter lubang Nozzle menjadi 0,3 cm. Untuk panjang material yang keluar menjadi 100 cm. Berapa volume material cair yang dikeluarkan dalam 1 detik tersebut dapat dihitung dengan menggunakan rumus (π x Ds²)/4 x L. Dimana, π : 3,14. Ds adalah Diameter Screw, dan L adalah dimensi panjang material yang dikeluarkan. Maka perhitungan dari : (3,14 x 0,3²)/4 x 100 = 7 cm³ untuk setiap detiknya. Bila lamanya total Injeksi sebesar 5 detik, maka volume keseluruhan yang keluar dari lubang Nozzle adalah 7 x 5 = 35 cm³.

Jika gara-gara posisi alignment Nozzle tidak sejajar atau tidak lurus dengan lubang Sprue Bush hingga menutup setengahnya atau sekitar 50% dari lubang Nozzle, maka sebanding lurus dengan material yang dikeluarkan menjadi 7 cm³ x 50% = 3,5 cm³. Sehingga volume material yang dikelauarkan dalam 5 detik total waktu injeksi adalah 3,5 x 5 = 17,5 cm³.

Perhitungan diatas memang tidak absolut, karena belum termasuk menghitung berbagai faktor yang sedikit banyak ikut mempengaruhi hasil perhitungan. Namun secara umum kira-kira dapat mewakili opini atau argumentasi terhadap masalah bersangkutan. 

Stay Tune Sahabat Plastik.

Baca Selanjutnya ..